Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi sorotan publik dan polemik karena diikutsertakan ke dalam Tujuh Keajaiban Alam yang diprakarsai New7Wonder (N7W). Banyak orang mempertanyakan kredibilitas N7W sebagai penyelenggara "idols" untuk keajaiban alam tersebut, sebab N7W hanyalah lembaga partikelir yang didirikan oleh mantan pejabat Unesco. Pemerintah Indonesia di bawah kementrian yang dipimpin Jero Wacik tidak terlalu bersemangat mengikutsertakan TNK ini, meskipun Indonesia mendaftar dua keajaiban alam lainnya selain TNK. Peran pemerintah diambil mantan Presiden Jusuf Kalla yang gencar meminta warga masyarakat Indonesia untuk memberikan suara kepada TNK sebagai keajaiban alam. Di lain pihak, dubes RI di Swiss Djoko Susilo, sebagai perwakilan pemerintah, terus menelisik keberadaan dan keabsahan dari N7W yang berkantor di Zurich. Hasil penelitian yang diumumkan kepada media massa menyatakan bahwa kantor N7W di Swiss tidak dapat ditemukan. Jusuf Kalla menanggapinya dengan mengatakan bahwa kantor modern sekarang ini tidak harus berbentuk fisik, tetapi dipersilakan mengeceknya lewat internet. Tidak lama setelah polemik terjadi, situs The Guardian dari Inggris menurunkan berita yang mempertanyakan cara kerja N7W yang dikatakan telah meminta negara-negara yang mengikutsertakan calon keajabain alam menyetorkan jutaan dollar. Bahkan situs itu mencurigai kemungkinan penipuan global oleh segelintir orang kepada beberapa pemerintahan dunia. Hasil voting yang kadang diikuti beberapa kepala negara itu belum diumumkan. (PEP)